Dari Hati Seorang Lelaki (Bagian 2)

Sudah hampir satu jam Triaz menunggu kepastian dan keputusan dari pihak room control CCTV stasiun Manggarai. Namun hingga saat ini Triaz belum mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dia masih menunggu di teras ruang tunggu stasiun Manggarai. Andrian menemaninya sedari tadi. Kegelisahan dan rasa cemas terus mengoyak-ngoyak hati Triaz. Seandainya saja si Ibu itu tidak diketemukan, Triaz harus siap-siap menerima semua kepahitan. Elsa sudah pasti akan memarahinya habis-habisan. Sudah terbayang apa yang akan dikatakan oleh Elsa. Dan bagaimanapun Triaz tidak akan pernah bisa untuk melawan atau membela diri. Jelas dalam hal ini dia yang salah.

"Iaz... lo yang tenang ya. Semoga saja pihak dari stasiun Manggarai bisa melacak keberadaan si Ibu itu kemana perginya," Andrian nampak menenangkan.

"Gue takut kalau Namra tidak diketemukan, Dri. Semuanya bisa kacau. Elsa pasti akan sangat marah sama gue."

"Hhhh..." Andrian hanya bisa mendengus keras sambil mengusap-ngusap punggung sahabatnya itu.

Di antara mereka berdua tidak ada lagi yang berbicara. Baik Triaz maupun Andrian larut dalam suasana gelisah dan juga cemas. Sementara itu dari arah selatan arah stasiun Jatinegara, datang KRL Commuterline tujuan Jakarta Kota dari stasiun Bekasi. Bergerak perlahan menuju jalur dua stasiun Manggarai. Penumpang yang ada di dalamnya tidak begitu banyak. Dan setelah berhenti di jalur dua, pintu kereta terbuka dan keluarlah beberapa orang penumpangnya.

Masing-masing menuju tujuan. Tidak jauh beda dengan sosok perempuan yang memakai baju warna biru muda dan memakai rok di bawah lutut nampak bergegas turun. Melangkah menuju ke teras ruang tunggu stasiun Manggarai.
Ya, dia adalah Elsa. Istrinya Triaz yang ternyata benar-benar telah datang langsung menemui Triaz di stasiun Manggarai. Wajahnya sangat tidak enak untuk dilihat. Penuh rasa kesal dan amarah yang sudah memuncak. Elsa nampak celingak-celinguk mencari sosok Triaz, suaminya. Sejauh mata memandang dia mencari dan mencari keberadaan Triaz yang katanya sedang menunggu di teras ruang tunggu stasiun Manggarai.

"Di mana kamu, Mas.. Awas saja Kalau sampai Namra tidak ditemukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Tidak akan," Sambil mencari sosok Triaz, Elsa berbicara sendiri. Menumpahkan kekesalan dan kemarahannya. Hingga akhirnya setelah beberapa saat lamanya mencari, Elsa mulai melihat keberadaan Triaz. Tanpa banyak kata, Elsa langsung menghampiri suaminya itu. Langkahnya kian dipercepat.

"Dimana anakku? Namra mana?" Tanpa ba-bi-bu lagi Elsa langsung melabrak Triaz dengan pertanyaan itu. Dan dengan spontan Elsa mendorong tubuh Triaz. Namun syukurlah Triaz tidak sampai terjatuh ke lantai. Andrian yang melihat itu nampak kaget dengan sikap istri sahabatnya itu.

"Astagfirullahaladzim, Elsa. Ingat sayang, ini suamimu bukan musuhmu,"

"Aku mau Namra kembali, aku mau anakku!"

"Pihak stasiun sedang melacaknya lewat CCTV, sayang. Mereka akan segera menemukan penculik itu."

"Semua ini gara-gara kamu, Mas. Aku sudah bilang sama Mas, nggak usah ajak-ajak Namra ke rumah Ibu kamu itu. Kalau sudah begini, apa yang kamu bisa lakukan? Hah? Apa?" Suara Elsa demikian tinggi dan kencang, menggetkan beberapa orang yang melintas di teras stasiun Manggarai.

"Elsa sayang, pelankan suara kamu. Nggak enak didengar banyak orang."

"Aku tidak peduli, Mas Triaz harus bertanggung jawab atas hilangnya Namra. Kalau sampai Namra tidak ditemukan, aku minta kamu pergi dari kehidupan aku selamanya Mas Triaz. Aku sudah muak melihat wajah kamu."

"Namra pasti diketemukan sayang. Petugas control room CCTV stasiun Manggarai sedang mengusahakannya."

"Ya, itu kalau berhasil diketemukan. Kalau tidak?"

"Kita harus optimis sayang. Namra anak kita pasti diketemukan."

"Namra adalah anakku. Bukan anak Mas Triaz. Darah kamu tidak pernah menetes di tubuhnya Namra, ingat itu Mas Triaz!"

"Elsa, aku aku memang telah melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti kamu berhak memaki dan membentak Mas di muka umum seperti ini. Ingat Elsa, Mas ini suami kamu."

Di saat Elsa dan Triaz sedang berdebat dan terlibat pembicaraan yang menegangkan. Dari arah selatan sana muncul tiga orang petugas stasiun Manggarai datang menghampiri Elsa dan juga Triaz.

"Permisi Pak Triaz. Selamat malam."

"Malam Pak. Bagaimana dengan anak saya, apakah keberadaan si Ibu itu sudah terlacak?" Tanya Triaz desah memburu.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan di control room CCTV berkali-kali, saya tidak bisa menemukan atau menangkap sosok si Ibu yang Pak Triaz maksudkan tadi. Keramaian penumpang di stasiun Manggarai di jam sibuk pulang kantor, itu yang menjadi alasan kami. Maafkan kami Pak Triaz. Kami sudah berusaha. Tapi..." Belum selesai petugas stasiun Manggarai menjelaskan, tiba-tiba saja Elsa langsung histeris dan menjerit sekencang-kencangnya.

"Namraaaa... anakkuuu. Namra..."

"Sayang, tenang sayang. Kita berdua akan segera menemukan Namra." Triaz berusaha untuk menenangkan Elsa dengan memeluknya hangat. Namun dengan cepat Elsa menepiskannya. Dia tidak sudi diperlakukan seperti itu.

"Pergi kamu Mas Triaz, aku tidak sudi lagi melihat wajah Mas. Pergi!!!"

"Elsa sayang..."

"Aku minta cerai Mas. Aku minta cerai!!"

***

Walaupun suara kereta api jarak jauh masuk di jalur empat dan suara klaksonnya cukup kencang, namun Triaz masih bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan oleh Elsa istrinya. Cerai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Elsa akan mengambil keputusan secepat dan sesimpel itu. Seharusnya dipikirkan terlebih dahulu.

"Apa, Mas sedang tidak salah dengar kan sayang."

"Sudahlah Mas, keputusanku sudah bulat. Aku ingin berpisah dari kamu. Pernikahan kita sebenarnya sudah salah dari awal."

"Tidak Elsa, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu. Itu tidak mungkin."

"Kamu harus nyadar dong Mas, aku tidak pernah mencintai kamu. Cintaku hanya untuk Sandy seorang, kamu sudah tahu hal itu."

"Tapi Mas mencintaimu Elsa. Sejak pertama Mas melihat kamu, Mas sudah jatuh hati padamu. Jadi tidak mungkin Mas menceraikan kamu."

"Terserah. Yang penting mulai saat ini aku ingin berpisah. Kita memang tidak pernah ada kecocokkan lagi."

"Dengar Elsa, kamu boleh memperlakukan Mas seperti ini. Silakan kamu marah atau kesal atas hilangnya Namra. Tapi kamu harus ingat satu hal, kamu tetap istri Mas. Dan sampai kapanpun akan seperti itu. Karena Mas, begitu sayang sama kamu. Mas..."

"Hakkhhh... lebay. Nonsens. Terserah."

"Jangan tinggalkan Mas, Elsa. Pikirkanlah sekali lagi."

"Maaf Mas, tapi hatiku sudah tertutup untuk kamu. Selamat tinggal. Oh iya satu hal lagi. Jangan pernah kamu berani datang lagi ke rumah. Cam kan itu."

Dengan wajah yang masih menyimpan kemarahan, Elsa meninggalkan Triaz dan stasiun Manggarai. Tatapan matanya begitu tajam. Triaz hanya bisa bersabar menerima perlakuan Elsa. Tadinya, Triaz ingin mengejar Elsa. Namun semua itu pasti akan sia-sia. Elsa sudah sangat membencinya. Elsa sudah tidak mau menerimanya lagi. Triaz menatap kepergian Elsa dengan sesak di dada. Dia berusaha untuk menahan sabarnya. Petugas PKD dan Andrian sahabatnya Triaz, hanya bisa diam terpaku melihat kejadian itu. Mereka tidak punya hak untuk ikut campur.

Beberapa saat setelah itu, petugas PKD dan petugas control room CCTV meninggalkan Triaz dan Andrian. Beberapa pasang mata sempat memperhatikan kejadian itu. Terfokus dan tertuju. Triaz akhirnya duduk bersandar di lantai teras. Wajahnya demikian kusut dan berduka. Tatapan matanya menerawang kosong ke depan. Sebagai sahabat, Andrian kasian melihat keadaan temannya itu. Perlahan Andrian membungkuk dan kemudian ikut duduk di samping Triaz.

"Triaz... lo harus kuat ya. Gue nggak nyangka, Elsa memutuskan secepat itu. Padahal sebenarnya masalah seperti ini sebenarnya bisa dibicarakan terlebih dahulu."

"Elsa itu istri gue, Dri. Seburuk apapun dia, gue masih menyimpan sayang dan cinta sama dia. Gue nggak mungkin ngelepasin dia."

"Kalau menurut gue sih, sebaiknya lo pertimbangkan permintaan istri lo itu. Secara, lo itu masih muda. Perempuan yang lebih baik dari Elsa masih banyak. Ya seenggaknya lo bisa mendapatkan perempuan yang masih suci dan lebih muda dari lo."

"Nggak, Dri. Elsa tetap menjadi mahkota dan berlian di hati gue. Gue akan mempertahankan pernikahan gue. Dan asal lo tahu, Dri. Gue itu sayang banget sama dia. Gue nikah sama dia bukan karena kasihan atau rasa iba. Tapi semua itu gue lakuin dari hati gue."

"Triaz... lo itu ganteng. Lo juga kaya dan sukses. Pasti banyak perempuan yang masih mau sama lo. Pikirkan lagi Triaz."

"Andri... jangan pengaruhin gue lagi. Please."

Hmmm... akhirnya Andrian terdiam dengan sendirinya. Triaz tetap dengan pendiriannya. Tidak ada lagi yang dapat dikatakannya. Padahal Andrian melakukan semua itu demi kebaikan hidup Triaz di masa depan. Andrian tidak hanya ingin melihat sahabatnya itu bersedih dan didera derita yang berkepanjangan. Apalagi Elsa istrinya, termasuk sosok perempuan yang temperamental dan keras kepala. Tidak sebanding dengan sahabatnya itu yang bijak dan penyabar. Sangat tidak pantas Triaz mendapatkan seorang istri seperti Elsa.

Dulu ketika Triaz memutuskan menikah dengan Elsa, sebenarnya Andrian kurang setuju. Selain sudah dalam keadaan hamil, Elsa itu lebih pantas jadi kakaknya Triaz. Usianya terpaut cukup jauh. Pada saat itu, Andrian sempat memperingatkannya. Sempat menyuruh Triaz mempertimbangkan keputusannya itu. Namun Triaz tidak tergoyahkan. Dia sudah kadung suka dan cinta dengan Elsa. Padahal menurut Andrian, Elsa itu wajahnya biasa saja. Tidak terbilang cantik-cantik amat. Namun Triaz sangat suka dengan Elsa yang berkulit eksotik dan hitam manis itu. Ahhh... bila ingat hal itu, Andrian jadi kesal lagi.

Tapi bagaimanapun, Andrian harus tetap menghargai keputusan Triaz untuk menikahi Elsa dalam kondisi sudah hamil karena lelaki lain. Entahlah, Andrian juga bingung mengapa sahabatnya itu begitu sayang dan tertawan hatinya kepada Elsa. Padahal saat itu, banyak sekali perempuan yang naksir dan mengejar-ngejar Triaz. Namun Triaz tetap menjatuhkan pilihan kepada Elsa yang sudah dalam keadaan seperti itu. Hmmm... Andrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja bila mengingat hal itu.

"Terus sekarang rencana lo apa, Iaz? Nggak mungkin kan lo nginep di stasiun Manggarai?"

"Gue akan tetap mencari Namra. Namra harus gue temuin."

"Lo mau cari kemana? Ini udah malam. Lo nginep aja ya di rumah gue. Besok lagi aja nyari Namranya."

"Nggak usah, Dri. Terima kasih. Gue harus menemukan Namra. Elo pulang aja."

"Triaz, ayolah..."

"Andrian, please..."

Bujukkan Andrian sejak dulu memang tidak ada yang mempan. Kalau Triaz sudah bilang A ya A. Kalau E ya E, tidak bisa diganggu gugat.

***

Sejak tadi, Triaz sudah stand by di stasiun Bekasi. Rencananya hari ini dia akan mencari Namra yang dibawa pergi oleh si Ibu yang tidak bertanggung jawab itu. Dengan sangat terpaksa Triaz tidak masuk kerja hari ini. Semalam dia sudah izin dengan Pak Sofyandi bosnya. Karena alasannya sangat kuat, akhirnya Triaz diperbolehkan tidak masuk kantor. Bagaimanapun caranya, Triaz harus bisa menemukan Namra. Semoga saja keberuntungan sedang berpihak padanya. Dengan begitu dia bisa mempertanggungjawabkan atas perbuatannya saat itu.

Manzilku Cerita Fiksi Dari Hati Seorang Lelaki

Dari arah barat KRL Commuterline tujuan Jakarta Kota sudah terlihat dan menurut announcer akan segera masuk di jalur tiga. Triaz sudah bersiap-siap di tepi peron garis aman warna kuning. Semoga usahanya kali ini bisa membuahkan hasil. Walaupun sangat tipis harapannya, namun setidaknya Triaz sudah mencoba berikhtiar untuk mencari Namra. Bila memang segala cara sudah dilakukan, barulah dia akan melaporkan hal ini kepada polisi. Selama dia masih bisa sendiri untuk melakukannya, dia sendiri yang akan mencarinya.

Kereta berhenti dengan sempurna. Beberapa penumpang nampak berhamburan keluar. Setelah beberapa saat lamanya, Triaz pun masuk ke dalam rangkaian kereta. Dia segera mencari tempat duduk yang dia inginkan. Rencananya hari ini, Triaz akan mencari Namra di stasiun Manggarai lagi. Mudah-mudahan saja si Ibu yang membawa Namra kembali lagi ke stasiun Manggarai dan Triaz bisa langsung menginterogasinya habis-habisan. Walaupun belum tentu hal itu akan terjadi. Namun Triaz yakin bismillah saja. Nawaitu.

Triaz duduk di sebelah kursi prioritas dekat pintu. Penumpang yang masuk ke dalam rangkaian kereta belum terlalu banyak. Biasanya di jam-jam berangkat kerja, peron stasiun Bekasi jalur tiga dijejali para penumpang. Namun karena saat ini sudah hampir jam setengah sebelas siang, situasi di stasiun Bekasi mulai sepi. Penumpang yang akan pergi beraktivitas ke ibu kota Jakarta, sembilan puluh persen sudah berangkat semua.

Tadinya, Triaz hendak mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang. Namun seketika dia urungkan. Dari kereta sebelah dia melihat sosok Ibu-ibu yang sepertinya sedang dia cari. Ya, Triaz belum tentu lupa dengan wajah si Ibu yang membawa kabur Namra. Kejadiannya baru saja semalam. Triaz sampai mengucek-ngucek kedua matanya. Khawatir dia telah salah lihat. Si Ibu itu sedang duduk menunggu kereta diberangkatkan. Dia memakai kerudung warna ungu dan baju berwarna ungu muda, duduk sendiri di kursi prioritas. Hmmm... Triaz memang cukup beruntung. Dengan mudahnya dia bisa menemukan si Ibu itu dalam satu kereta pula. Tapi... kok dia tidak menggendong Namra. Di mana Namra? Jangan-jangan...

Dengan gerakan langkah seribu, Triaz segera beranjak dari tempat duduknya. Dia bermaksud menghampiri si Ibu yang ada di kereta depan dekat persambungan di area kursi prioritas. Namun sepertinya si Ibu itu keburu melihat wajah Triaz yang menghampirinya. Terlihat kaget sekali si Ibu itu. Wajahnya langsung pucat pasi. Tentu saja si Ibu itu sangat mengenal wajah Triaz . Karena baru semalam mereka bertemu di stasiun Manggarai. Tanpa banyak kata, si Ibu pun langsung berdiri dan hendak melarikan diri menghindari Triaz.

"Hey, tunggu! Ibu mau kabur kemana?" Triaz berlari mengejar si Ibu itu ke peron stasiun. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka nampak kaget dan kebingungan. Ada apa sebenarnya.. Namun si Ibu itu tentu saja kalah. Dia tidak bisa menghindar dari kejaran Triaz. Dengan cepat, Triaz menghadang langkah si Ibu.

"Ibu tidak akan bisa lari dari saya. Ibu mau kabur kemana? Kembalikan anak saya! Di mana dia?" Ditanya seperti itu si Ibu malah diam. Dia tidak menjawab sepatah katapun.

"Jawab dong Bu, Ibu bawa kemana anak saya? Kalau Ibu tidak mau mengatakannya juga, saat ini juga Ibu akan saya ke kantor polisi."
Mendengar kata polisi, si Ibu langsung kaget dan menatap tajam wajah Triaz.

"Tidak, jangan bawa saya ke kantor polisi. Saya tidak bersalah."

"Tentu saja Ibu bersalah karena telah membawa kabur anak saya. Sekarang katakan di mana anak saya! Dimana?" Triaz mulai berani membentak-bentak si Ibu dengan suara keras di muka umum seperti itu. Tentu saja hal itu dilakukannya karena dia sangat marah dengan si Ibu yang belum diketahui namanya itu.

"Saya... saya tidak tahu." Si Ibu itu nampak ketakutan sekali. Sorotan mata Triaz sangat tajam dan penuh dengan amarah.

"Ibu jangan main-main dengan saya. Cepat katakan! Ibu sembunyikan di mana anak saya? Hah? Dimana?"

Dalam keadaan ketakutan seperti itu, si Ibu nampak berpikir dan mencari cara bagaimana agar terhindar dari amukan Triaz. Dia tidak mau berurusan lebih lama lagi dengan Triaz. Hingga beberapa saat kemudian...

"Tolooong... dia mau memperkosa saya. Toloooooong," Tiba-tiba saja si Ibu berteriak histeris dengan menuduh Triaz akan memperkosanya. Terang saja Triaz kaget dan tidak mengerti apa yang yang sedang direncanakan oleh si Ibu itu. Teriakan si Ibu akhirnya terdengar ke telinga petugas PKD yang sedang berjaga-jaga tidak jauh dari tempat itu. "Toloooooong... pemuda ini mau memperkosa saya. Toloooooong!"

"Astagfirullahaladzim, apa maksud Ibu sebenarnya. Tega-teganya Ibu memfitnah saya seperti ini." Antara bingung dan ketakutan. Itulah yang sedang dirasakan oleh Triaz.

"Mas PKD, tolong saya Mas. Laki-laki kurang ajar ini mau memperkosa saya." Si Ibu itu langsung menghampiri petugas PKD yang ada di dekatnya. 

"Itu bohong, Mas. Itu fitnah." Triaz membela dirinya sendiri.

"Benar Mas PKD, saya tidak bohong. Dari tadi pemuda itu mengintai saya. Tolong saya Mas, saya takut sekali."

"Demi Allah, saya tidak melakukan hal itu. Ini tidak benar Mas PKD. Justru dia yang telah bersalah. Dia membawa kabur anak saya."

"Dia bohong Mas, dia itu hanya ingin membela diri saja agar selamat."

"Astagfirullahaladzim Ibu, semoga Allah SWT mengampuni kesalahan Ibu."

"Tangkap dia Mas PKD, saya takut sekali. Tolong saya Mas PKD."

Beberapa saat saja, tempat itu sudah ramai dipenuhi oleh para penumpang yang akan naik kereta. Suara tangis palsu si Ibu itu mampu menghipnotis dan membuat simpatik para penumpang. 

"Tangkap saja laki-laki bejat seperti itu. Biar kapok."

"Astagfirullahaladzim, laki-laki seganteng itu kok doyannya emak-emak. Mendingan sama gue deh."

"Ckckckck... Dunia sudah mau kiamat."

"Zaman semakin edan."

"Gebugin rame-rame. Biar mati sekalian."

Dan masih banyak lagi ucapan para penumpang yang ada di peron stasiun Bekasi. Triaz nampak bergidik mendengarkan semua tuduhan itu. Seperti berada di pinggir lembah curam yang siap untuk dijatuhkan. Hahhh...

***

Ikhtiar Triaz untuk mencari Namra akhirnya harus pupus. Karena tuduhan si Ibu itu, dia harus ditahan dan diinterogasi oleh pihak stasiun Bekasi. Para petugas PKD dan Kepala Stasiun Bekasi menahannya sampai waktu lewat dari Dzuhur. Di ruang kepala stasiun Bekasi Triaz dan si Ibu itu diinterogasi bergantian. Menurut pengakuan Triaz dia tidak bersalah dan tidak pernah ada niat sedikitpun untuk berbuat hina seperti itu, apalagi di tempat umum seperti itu. Masih banyak tempat yang lebih realistis dan lebih masuk akal untuk melakukan hal sekeji itu. Menurut Triaz alasan si Ibu itu sangat tidak masuk akal. Hal itu pula yang dirasakan oleh Kepala Stasiun Bekasi dan beberapa orang petugas PKD.

Keanehan berikutnya, akan sangat langka seorang pemuda memperkosa seorang Ibu-ibu. Kebanyakan yang terjadi, si pemerkosa pasti memperkosa perempuan yang lebih muda atau sepantaran dengannya. Selain itu, keterangan si Ibu terbilang berbelit-belit dan tidak bisa dipahami oleh semua orang yang ada di ruangan Kepala Stasiun. Justru keterangan dan penjelasan dari Triaz yang lebih masuk akal dan mudah dimengerti oleh para petugas PKD dan Kepala Stasiun Bekasi. Hingga akhirnya, si Ibu itu yang ditetapkan sebagai tersangka karena telah memberikan keterangan palsu.

Kini Triaz hanya termenung sendiri di peron stasiun Bekasi. Dia tidak tahu apakah akan melanjutkan pencariannya atau tidak. Hari telah menjelang sore. Pikiran Triaz pun sudah tidak bisa konsentrasi dan fokus. Mungkin sebaiknya Triaz menenangkan diri terlebih dahulu di stasiun Bekasi. Pulang ke rumah Elsa, Triaz masih pikir-pikir. Istrinya itu sudah jelas-jelas tidak menerima kehadirannya lagi. Istrinya itu sudah sangat membencinya. Hilangnya Namra, itu yang membuat Elsa marah besar dan akhirnya minta cerai. Namun Triaz tidak mau berpisah dari Elsa. Dia masih sayang dan cinta kepada istrinya itu. Walaupun sikap istrinya itu selalu ketus dan tidak pernah bersikap ramah, tapi Triaz tetap mempertahankan Elsa sebagai istrinya. Ya. Seberat apapun masalah rumah tangganya, dia akan bertahan.

Triaz teringat kembali saat Bu Rani ibu kandungnya Namra meminta kesungguhannya untuk memperistri Elsa yang sudah dalam keadaan hamil muda. Bu Rani begitu menaruh harapan kepada Triaz agar mau menolong Elsa. Agar status kehamilan bisa terselamatkan dengan menikah. Saat pertama kali Triaz bertatap muka dengan Elsa, Triaz memang sudah jatuh hati. Perasaannya langsung berdebar-debar. Sosok seperti Elsa memang yang selama ini Triaz cari, yaitu berkulit hitam manis eksotik. Walaupun sebenarnya dan pada awalnya, Triaz memang hanya ingin menolong Elsa saja. Namun setelah pernikahan itu berjalan bulan demi bulan, perasaan cinta itu kian tumbuh dan tumbuh. Rasa sayang terhadap Elsa semakin membumbung tinggi.

"Asal tahu aja ya Mas Triaz, aku mau menjadi istri Mas, itu karena kehamilanku dan juga karena Mama. Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku mau bersuamikan brondong macam Mas Triaz. Semua ini kulakukan karena terpaksa dan keadaan. Karena cinta aku, hanya untuk Sandy seorang. Mas Triaz harus ingat itu. Dan satu hal lagi, jangan harap aku bisa mencintai Mas Triaz. Karena Mas Triaz bukan tipeku."

"Mas akan berdoa kepada Allah, kelak di kemudian hari kamu bisa menerima Mas menjadi suami kamu. Karena Mas yakin, Allah akan mendengarkan doa-doa hambanya yang sabar dan bertaqwa."

"Halllahhhh... bodo amat. Itu kan menurut pemikiran Mas Triaz. Karena aku tahu, jauh di lubuk hati Mas, sebenarnya Mas Triaz itu nggak cinta sama aku. Mas Triaz itu hanya menolong aku, hanya kasihan belaka. Aku sudah tahu semuanya."

"Terserah kamu mau ngomong apa, aku terima."

"Satu lagi Mas, selama kamu menjadi suami aku, kamu tidak berhak menyentuh tubuhku barang sedikitpun. Ingat itu. Kamu boleh menyentuhku dan bersikap mesra padaku hanya di depan Mamaku saja."

"Tapi aku ini sudah menjadi suamimu Elsa. Aku berhak atas itu."

"Kalau Mas Triaz tidak mau, kita batalkan saja pernikahan ini. Bagaimana?"

"Elsa..."

"Itu keputusanku. Tidak bisa diganggu gugat."

Percakapan itu masih diingat Triaz sehari sebelum pernikahannya dengan Elsa. Tidak ada pilihan lain lagi. Di sisi lain, Triaz sudah menaruh hati pada Elsa dan tidak mau melepaskannya. Namun di lain sisi permintaan Elsa begitu berat. Namun dengan mengucap bismillah, akhirnya Triaz bersedia memenuhi permintaan Elsa itu. Selama menikah dia tidak boleh menyentuh Elsa, apalagi bersetubuh dengannya. Dan memang benar adanya, setelah kurang lebih setahun pernikahan, Triaz belum pernah menyentuh Elsa apalagi sampai menyetubuhi Elsa. Dan itu adalah hal yang sangat menyiksa. Hati Elsa masih keras. Dia belum bisa menerima kehadiran laki-laki lain selain Sandy di hatinya. Karena Elsa yakin, Sandy meninggalkannya begitu saja pasti punya satu alasan yang kuat.

Menitik hangat air mata Triaz, jatuh sendu ke lantai peron stasiun Bekasi. Entah sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir. Triaz sangat berharap, bahwa suatu hari nanti Elsa mau menerimanya, menerima cintanya.

"Triaz... kok kamu di sini? Kenapa tidak ke kantor?" Sebuah suara tiba-tiba saja menggetkan lamunan Triaz. Segera Triaz menghapus air matanya dengan selembar tissue yang dibawanya. Sungguh Triaz tidak menyangka. Dia sangat kaget.

"Mama... kok ada di sini?" Ya, itu adalah Bu Rani mertuanya. Mamanya Elsa.

"Mama tadi dari rumah Bu Nurul. Abis ada perlu. Nah kamu sendiri kok malah di stasiun Bekasi. Dan... kamu habis nangis ya? Ada apa Triaz? Kamu ada masalah di kantor, atau dengan Elsa?"

"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Di kantor aku tidak ada masalah. Hubungan dengan Elsa pun, baik-baik aja."

"Nah terus, kenapa kamu di sini? Nangis lagi."

Triaz tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya kepada Bu Rani. Jangan sampai Ibu mertuanya itu mengetahui hal yang sebenarnya. Triaz hanya menunduk dan terdiam. 

"Pulang saja ke rumah. Kasian Namra, Triaz, dia menunggu Kamu pulang."

Triaz langsung terbatuk-batuk saat mendengar Bu Rani menyebut nama Namra. Bukankah Namra itu sedang hilang karena diculik.. Bagaimana bisa saat ini ada di rumah. Berarti......

*****

Bersambung ke Dari Hati Seorang Lelaki Bagian 3

Daftarkan email kamu, dapatkan update dari manzilku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel