Kilas Balik Sejarah Sampit

Sungai mentaya Sampit

Mengetahui sejarah suatu kota di masa lampau adalah suatu keunikan tersendiri bagiku. Aku pernah jatuh cinta dengan kota Bandung, meskipun sebenarnya aku belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut.
Aku jatuh cinta dengan kota Bandung bukan karena keindahan kotanya yang selalu aku dengar dari televisi, bukan karena aku pernah membaca novel fenomenal “Dilan”, bukan pula karena ada seseorang yang aku cintai disana. Aku jatuh cinta dengan sejarah Bandung di masa lampau.
 Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan kota Bandung?
Aku lupa tepatnya kapan, yang jelas saat itu aku sedang “leyeh-leyeh” di depan televisi. Mencari channel acara favoritku di televisi nasional, namun tidak menemukan acara yang bagus menurutku. Kemudian tidak sengaja aku menemukan acara yang sedang menceritakan sejarah Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946. Seperti yang kita ketahui, lagu “Halo, Halo Bandung” cukup mengisahkan bagaimana semangat masyarakat Bandung ingin merebut kembali Bandung setelah menjadi lautan api. Yang menjadi fokus perhatianku saat itu adalah bagaimana bisa masyarakat Bandung mengikhlaskan semua harta bendanya? membakar rumah dan  lahan yang dimilikinya. Kemudian mereka meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Mereka meninggalkan kota hanya membawa sedikit barang yang bisa dibawa. “Untuk apa mereka melakukan hal tersebut?” Semua itu dilakukan karena mereka tak ingin tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda menggunakan kota Bandung sebagai markas stategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Pengorbanan masyarakat Bandung

Cerita pengorbanan masyarakat Bandung itu cukup menggugah hatiku. Aku membayangkan, bagaimana seandainya cerita tersebut terjadi padaku dan terjadi pada jaman sekarang. “Apakah aku mampu mengikhlaskan seluruh harta benda yang aku miliki, yang aku dapatkan susah payah, kemudian aku bakar untuk Kemerdekaan Indonesia?” Aku berharap aku mampu melakukan semua itu. Itulah kenapa aku kagum dengan Bandung terutama masyarakat Bandung pada jaman itu, karena aku begitu mengapresiasi pengorbanan masyarakat Bandung sebagai bentuk kesetiaan pada Indonesia.

Tapi kali ini kita tidak sedang membahas mengenai Bandung, tadi hanya sekilas info bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan suatu kota hanya dengan mendengar maupun membaca suatu cerita yang terjadi di masa lampau mengenai kota tersebut. Aku begitu yakin, bahwa setiap kota yang ada di dunia ini pasti memiliki sejarah dan keunikannya masing-masing.

Sesuai judul tulisan ini, aku akan menceritakan mengenai kota Sampit. Aku bukanlah orang yang lahir di kota tersebut, bukan pula orang yang telah lama tinggal di kota tersebut. Hanya saja aku pernah tinggal beberapa tahun di kota Sampit dan kota ini berhasil membuatku jatuh cinta pada sejarah Industri Kayunya. Aku masih kelas 1 SD saat pertama kali menginjakkan kaki di kota tersebut. Saat itu aku berada pada masa akhir kejayaan kayu Kotawaringin Timur. Jadi, Kotawaringin Timur dengan ibu kota kabupaten Sampit, dulunya memiliki kota-kota yang merupakan pusat bisnis kayu atau sentra logging dan lokasi perusahaan-perusahaan logging maupun sawmill dalam skala besar atau kecil.

Bapakku merupakan pelaut dan menjadi bagian dari ABK kapal tugboat. Kapal tugboat itulah yang nantinya akan membawa gelondong kayu dari hutan menuju perusahaan pengolah kayu melalui perjalanan air. Beliau telah lama merantau ke kota Sampit sebelum aku dilahirkan, beliaulah yang selalu menceritakan mengenai pabrik perusahaan kayu yang ada di Sampit. Dari cerita beliau, membuatku tertarik untuk mencari lebih tau bagaimana dulunya Sampit adalah raja industri pengolahan kayu.

Gelondong kayu

Mari sedikit membahas industri kayu di Kalimantan. Kalimantan kala itu terkenal dengan rimbunan kayu dan kekayaan hutannya. Wajar saja bangsa asing tak ingin ketinggalan kesempatan untuk meraup keuntungan darinya. Kejayaan produksi kayu Kalimantan ditandai dengan berdirinya NV Bruynnzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) pada tahun 1948. Pemiliknya warga negara Belanda. Dan BDH ini merupakan kilang penggergajian kayu termodern di Indonesia. Masyarakat lokal biasa menyebut kilang penggergajian kayu ini dengan sebutan brengsel untuk mempermudah pelafalan. Konon katanya brengsel ini sangat megah dan canggih kala itu. Jumlah mesin di brengsel ada puluhan, kemudian mesin dan teknisinya langsung di datangkan dari Belanda. Brengsel ini punya lokomotif khusus untuk mengangkut gelondong-gelondong kayu dari hutan di kawasan Barat Sampit yang panjangnya hingga belasan kilometer. Selain kecanggihan mesinnya, brengsel memiliki bangunan luas berlantai dua. Lantai satu untuk tempat pengolahan kayu tahap akhir dan lantai dua sebagai tempat pengeringan dan pengolahan kayu tahap satu. Gelondongan kayu basah yang diceburkan ke sungai untuk dibersihkan, akan dinaikan ke lantai dua pabrik dengan mesin hidrolik. Pabrik Bruynzeel ini juga memiliki dua armada kapal pengangkut kayu olahan, yang akan membawa hasilnya ke Jakarta. Pekerjanya dulu hampir 2.000 orang, dan para pekerja juga disediakan perumahan dengan arsitektur Belanda. Tapi ini dulu, brengsel sekarang hanya tersisa bangunan tua yang telah padam dan melapuk.

Bruynzeel dulu
Bruynzeel sekarang

Pada 1961, kepemimpinan pabrik berpindah ke tangan pemerintah kota. Hal ini menyusul dikeluarkannya Peraturan Perusahaan Negara (PN) Perhutani oleh pemerintah. Kemudian pemerintah mengeluarkan PP no.15/1972 tentang perubahan PN. Perhutani Kalimantan menjadi PT. Inhutani. Kesuksesan Inhutani memproduksi kayu, mulai diikuti oleh banyak investor dari Luar. Era tahun  1990an, perlahan geliat kayu mulai tampak. Satu persatu perusahaan menancapkan benderanya di tanah Kalimantan. Untuk wilayah Kotawaringin Timur, sebut saja PT. Meranti Mustika, PT. Kayu Tribuana Rama, PT. Sarmiento Parakanca, PT. Berkat Cahaya Timber, dan masih banyak lagi.

Hasil pengolahan kayu

Orang tuaku sendiri pernah bekerja pertama kali di perusahaan bernama Mentaya Kalang. Di perusahaan ini, aku belum sempat melihat bagaimana keelokan perusahaan kayu ini. Kata ibuku, perusahaan ini berada di seberang kota sampit, melewati sungai mentaya tepatnya di rimba kota Sampit. Semua pekerja di perusahaan tersebut mendapatkan tempat tinggal gratis yang disediakan oleh perusahaan, biasa disebut dengan mess. Beberapa fasilitas publik juga disediakan oleh pihak perusahaan seperti sekolah TK, posyandu, musholla, dan lain sebagainya. Tempat tinggal di perusahaan tersebut tidak ubahnya seperti perkampungan. Kata ibuku, orang-orang yang bekerja di perusahaan kayu akan tergolong menjadi orang-orang yang memiliki kelas ekonomi menengah.

Pada tahun 2000an, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota Sampit. Orang tuaku sudah berpindah ke perusahaan bernama PT. Karya Upaya Bersama. Karena perusahaan sebelumnya telah pailit. Lokasi perusahaan ini hampir sama dengan sebelumnya, yaitu melintasi sungai mentaya menuju rimba kotim. Berbicara mengenai pendidikanku, aku menempuh pendidikan di salah satu SD Negeri di kota Sampit. Sehingga, setiap jam 5 pagi aku sudah berangkat dari mess perusahaan menuju sekolah. Waktu yang ditempuh lumayan jauh, aku butuh 1 jam perjalanan hingga sampai ke sekolah. Satu-satunya transportasi penghubung antara mess perusahaan dan kota Sampit adalah taksi kelotok (perahu mesin).

Oh iyaa, mess disini menurutku unik sekali. Kenapa unik? Karena disini semua rumah berbentuk rumah panggung dan dari rumah satu ke rumah lainnya di hubungkan oleh jembatan kayu. Alasan dibuat seperti ini, karena berada di pinggiran sungai mentaya dan seringkali air pasang naik ke daratan.
Bagaimana tempat bermain anak-anak para pekerja dari perusahaan kayu?
Hingga dewasa sekarang, pengalaman bermain di suatu perusahaan kayu, di hutan rimba Kalimantan adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Tepat di belakang rumahku adalah hutan rimba, ibuku selalu mengajak masuk ke hutan untuk mencari rembung dari pohon bambu, kesempatan itu kadang aku gunakan untuk eksplorasi hutan. Selain itu aku dan teman-teman di perusahaan kayu tersebut memang tidak memiliki lahan untuk bermain, tapi kami punya gudang penyimpanan kayu yang luas untuk bermain. Dari kebiasaanku dan teman-teman bermain ke pabrik pengolahan kayu, aku mempelajari bagaimana awal kayu log dinaikan ke daratan, kemudian di potong-potong menggunakan alat gergaji yang besar dan dibentuk sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Hasil pengolahan kayu yang sudah jadi tersebut kemudian dibawa ke gudang menggunakan forklift.

Pada tahun 2001, terdengar kabar bahwa perusahaan tempat aku tinggal juga akan pailit. Ditambah pula terjadinya sejarah kelam kota Sampit mengenai kerusuhan antar etnis pada Februari 2001, yang hampir berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik itu dimulai dari Kota Sampit dan meluas ke seluruh provinsi Kalimantan Tengah. Para pekerja yang termasuk dari salah satu etnis terkait dalam pertikaian, pergi mengungsi. Akibatnya banyak perusahaan kehilangan karyawan, termasuk para pekerja di perusahaan pengolahan kayu tempat orang tuaku bekerja. Sekolah-sekolah diliburkan. Aktivitas normal yang biasa dilakukan terhenti. Tidak ada kegiatan jual beli. Sampit layaknya kota mati yang mencekam.
Bagaimana kegiatan perusahaan pengolahan kayu setelah kerusuhan?
Menurutku, di beberapa perusahaan yang ada di sana masih bernyawa. Hanya saja sudah tidak bertenaga. Ayahku memutuskan untuk pindah ke perusahaan sebelah bernama PT. Perkasa Wana. Kondisinya hampir sama dengan nasib di perusahaan sebelumnya, namun masih lebih baik. Aku tidak mengerti berapa UMR daerah pada masa itu, yang jelas gaji ayahku berkisar Rp. 700.000/bulan dan itu sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pada masa itu. 2 tahun kemudian, aku pindah ke kampung halaman. Aku sudah tidak tau bagaimana kabar dari perusahaan kayu tersebut. Namun, ayah pernah bercerita bahwa yang tersisa saat ini di lokasi beberapa perusahaan pengolahan kayu tersebut hanyalah puing-puing runtuhan.

Daftarkan email kamu, dapatkan update dari manzilku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel