Laluna Cerita Cinta

Bus malam

Sedari pagi, hujan kian akrab dengan bumi. Membasahi tanah yang berdoa sekian hari untuk meredakan kehausannya. Seorang perempuan masih saja tertidur lelap di kasurnya.
Perempuan ini nampak begitu lelah, hingga dia terbangun ketika ayam telah lama selesai dengan tugasnya. Cuaca pagi ini begitu sendu, tak ubahnya dengan perasaan manusia yang sedang dirundung rindu.

Perempuan ini bernama Ratih. Pukul 08.00 WIB, Ratih terbangun dan segera mengemas pakaiannya ke dalam koper. Setelah selesai berkemas, dia menuju dapur dan membuat sarapan serta kopi sachet kesukaannya. Langit sedang sehati dengannya, pilu di hatinya membuat langit turut ikut bersedih, seolah semesta sedang bekerjasama dengan Tuhan untuk merayakan kesedihan. Sambil menyeruput kopi, Ratih memandang ke luar jendela, memperhatikan rintikan hujan yang turun sedari subuh dengan tatapan kosong.

“Nak, sudah berkemas?” tanya ibu, yang membuat Ratih terkejut.

“Eh, ibu. Sudah, bu. Semua sudah Ratih siapkan untuk keberangkatan nanti malam,” jawab Ratih sambil melempar senyum hambarnya.

“Berapa lama nanti di sana?” tanya ibu kembali.

“Untuk training dari perusahaan itu satu minggu, cuman Ratih minta cuti satu hari untuk jalan-jalan di sana seharian.”

Ibu tak menjawab apa-apa setelah itu. Hanya melempar senyum manisnya. Seperti sedang merasakan kesedihan mendalam di hati anaknya, beliau tak ingin berbicara panjang lebar seperti biasanya. Dan sentuhan tangannya ke rambut Ratih, memberikan isyarat turut bersedih dan ingin Ratih bersabar atas ujian ini.

Sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, Ratih sudah di terminal menunggu keberangkatan dengan sebuah bus. Cuaca sore itu juga sedang rewel, hujan yang tak berkesudahan. Cuaca begitu sejuk, tak seperti biasanya yang selalu panas. Sopir bus sudah memberikan tanda klakson dengan panjang selama 2 kali, sebagai pertanda bus akan segera berangkat ke tempat tujuan.

Ketika di dalam bus, Ratih menemukan kursi di sebelahnya kosong. Namun Ratih tidak menghiraukan kursi kosong tersebut. Seorang kenek bus memeriksa daftar penumpang, kemudian kenek bus mendatangi sopir dan seperti membisikkan sesuatu pada si sopir. Waktu keberangkatan telah terlambat dari waktu yang seharusnya. Sopir bus akhirnya memutuskan untuk berangkat. Namun, ketika bus akan bersiap meninggalkan terminal, seorang perempuan berteriak dari dalam sebuah mobil. Perempuan muda tersebut keluar mobil, melambaikan tangan kanannya dan terlihat memeluk akuarium kecil berisi ikan mas di tangan kiri. Perempuan tersebut melemparkan senyum tak tau malunya pada si sopir. Dengan santai perempuan tersebut lewat di depan bis dan menuju loket terminal untuk check in keberangkatan. Dengan tergesa-gesa dia menaiki bus setelah dari loket.

“Maaf Pak…. Siswanto. Maaf banget pak, saya terlambat karena tadi di jalan ada kecelakaan,” kata perempuan itu mencoba menjelaskan sambil melirik nametag pak supir.

“Iyaa silahkan duduk, mbak. Lain kali jangan terlambat lagi yah,” kata pak supir mencoba ramah.

Perempuan muda yang terlambat datang ini ternyata adalah teman sebangku Ratih di bis bus. Ratih menatap kosong ke luar jendela. Dia tetap tidak menghiraukan kedatangan perempuan tersebut. Perempuan tersebut duduk di sebelah Ratih, setelah meletakkan ranselnya di bawah kursi dan memangku akuarium kecil berisi ikan mas miliknya. Bus telah berlalu meninggalkan terminal. Kini roda bus sedang menggilas jalanan yang licin akibat hujan seharian. Beberapa penumpang asyik berbincang dan beberapa lagi mencoba memejamkan mata. Ditemani oleh alunan lagu dangdut koplo yang berkumandang seantero bus.

“Kak, aku Luna. Laluna,” kata perempuan tersebut kepada Ratih yang sedang menatap layar ponsel dengan tatapan kosong.

“Eh, tadi kamu bilang apa?,” tanya Ratih yang terkejut oleh sapaan Luna.

“Namaku Luna, kak. Nama lengkapku Laluna Aluh,” sambil mengulurkan tangan.

“Hai, Luna. Namaku Ratih, salam kenal yah,” menyambut tangan Luna dan kemudian menatap kembali layar ponselnya.

Luna merasakan ada yang salah dengan Ratih. Sedari tadi Ratih sibuk melamun dan menatap layar ponselnya, seolah sedang menunggu sebuah notifikasi penting bagi hidupnya.
Langit senja sedang bersiap beranjak pergi, mengisyaratkan akan datangnya gelap. Kumandang azan telah berbunyi, Tuhan sedang memanggil umatnya untuk beribadat. Bus berhenti di suatu warung makan yang menyediakan musala. Beberapa di antara penumpang bus menyegerakan seruan Tuhan dan beberapa lagi menyegerakan seruan perutnya. Ratih dan Luna berbaur dengan penumpang lainnya. Semua manusia di sana sibuk dengan dirinya. Beraktifitas di tempat yang asing dengan puluhan orang asing. Klakson bis bus berbunyi dengan panjang dan nyaring, isyarat bis bus akan melanjutkan perjalanan.

Luna dan Ratih kini duduk bersebelahan kembali, setelah beberapa saat mereka memisahkan diri. Luna pelan-pelan mengumpulkan keberanian untuk bercakap kembali pada Ratih. Sikap acuh Ratih acapkali mengurungkan niat Luna mengajak bicara. Musik dangdut masih menjadi primadona si sopir untuk dilantunkan. Pukul 21.00 lampu bus telah dipadamkan, beberapa penumpang telah larut dalam lamunan tidurnya. Beberapa kali bus terhentak akibat lubang di jalanan, sedikit mengguncang perut yang telah kekenyangan. Pelan-pelan musik kini dipelankan, sebagai bentuk pelayanan pada penumpang untuk memberi kenyamanan.

Musik kini telah berbisik, lampu telah lama dipadamkan, kondisi gelap menjadi suatu hiasan. Hanya lampu sorot depan bus yang dibiarkan tetap menyala, dijadikan sebagai pemandu jalan yang baik. Sesekali pemandangan menjadi gelap-gulita ketika melewati deretan pohon berjejer di pinggir jalan. Dan sesekali nampak cahaya dari sebuah perkampungan atau ketika memasuki perkotaan. Perjalanan ini cukup panjang, karena keluar masuk desa bahkan kota. Ketika memasuki jalanan yang melewati kawasan hutan, pemandangan dari balik jendela begitu gelap, namun tidak dengan langitnya.

“Ka!” sapa Luna pada Ratih sambil menepuk bahu Ratih.

“Iyaa, Luna?”

“Dari tadi kaka melamun terus, hampir saja kaka ketinggalan momen penting dari perjalanan ini.”

“Maksudnya?”

Luna mengarahkan jari telunjuknya ke jendela, mengarahkan persis ke langit. Ratih mengikuti arah jari telunjuk Luna. Dan untuk beberapa saat mereka terdiam memperhatikan langit malam yang bertabur bintang. Mereka sedang menyaksikan Tuhan menyombongkan hasil karya-Nya di mata umatnya. Langit sedang bermadu cinta dengan bintang di sana.

“Kata mantanku, bintang itu akan sangat terlihat jelas jika siangnya hujan. Alasannya karena langit akan bersih setelah hujan dan bintang akan tampak jelas jika dilihat dari bumi,” kata Luna memecahkan keheningan.

“Hem, kamu masih saja percaya dengan perkataan mantanmu?” tanya Ratih.

“Iyaa. Masih.”

“Meskipun itu bohong?”

“Selagi aku tidak tau bahwa itu suatu kebohongan, aku akan masih selalu percaya.”

“Luar biasa, mungkin kamu putus cinta bukan karena suatu penghianatan.”

“Kata siapa?,” tanya Luna.

“Kataku,” jawab Ratih secepat setelah Luna selesai berbicara.

“Coba kaka perhatikan bintang-bintang itu. Kalau malam mereka ada, kalo kalau siang bagaimana?.”

“Kalau siang mereka hilang.”

“Salah. Kalau siang mereka masih ada di tempat yang sama. Sama seperti bulan. Mereka hanya dikalahkan oleh cahaya matahari yang membuat atmosfer menjadi terang.”

“Terus apa hubungannya?,” tanya Ratih sambil mengernyitkan dahi.

“Aku bintang itu. Aku bintang di siang hari. Aku bisa memperhatikan mantanku di bumi bisa hidup bahagia dengan kehidupan barunya. Sementara dia tidak bisa melihatku dari sana. Aku bahagia bisa melihatnya bahagia dengan orang baru. Sementara dia acuh padaku yang jauh darinya.”

Ratih mulai tertarik dengan perbincangan ini. Badannya mulai mengarah pada Luna. Ratih merasakan ada kesamaan nasib dengan Luna. Ratih menyimpan penasaran, bagaimana bisa Luna bisa melewati kerikil di dalam hidupnya. Sampul depan Luna menggambarkan tak ada kerikil atau bahkan lubang permasalahan dalam hidupnya. Luna nampak seperti mahasiswa yang kekanakan dengan akuarium kecilnya. Namun Ratih sadar, bahwa di dasar kepribadian Luna, dia begitu dewasa.

“Kamu pernah dikhianati?,” tanya Ratih untuk memastikan arah pembicaraan ini.

“Iyaa. Mungkin kaka juga sama,” jawab Ratih dengan yakin.

“Iyaa. Kamu bener. Aku sedang merasakannya. Aku hampir bunuh diri karena ini. Aku juga sudah gak bisa nangis. Mungkin karena air mataku sudah kering. Hehe,” jawab Ratih dengan hambar.

“Kak, kehilangan itu wajar. Yang luar biasa adalah bangkit dari kehilangan. Aku baru saja menyelesaikan mata kuliah PPL di suatu sekolah. Dan kakak tau cerita apa yang aku dapat?.”

“Cerita tentang apa? PPL sendiri aku gak mengerti.”

“Hahaha…. Iyaa aku belum jelasin yah. Jadi PPL itu seperti program magang di sekolah untuk mahasiswa yang mengambil fakultas keguruan. Ceritanya gini, pas waktu aku PPL itu aku deket sama petugas bersih-bersih di sekolah. Aku kagum sama beliau karena meskipun beliau ditinggalkan oleh suaminya yang gak tau di mana hingga saat ini, beliau mampu bangkit untuk membiayai 3 anaknya yang masih bersekolah. Dari cerita-cerita pilunya berjuang sendirian menghidupi 3 orang anaknya. Aku menjadi sadar, kita bukanlah satu-satunya manusia yang merasakan pedihnya ditinggalkan atau dikhianati. Diluar sana, ada banyak orang yang bernasib lebih perih dibandingkan kita. Itulah kenapa sekarang aku sudah tidak mau terlalu sedih mengingat masa lalu. Karena bisa jadi penderitaan orang lain lebih berat dibandingkan aku. Jadi yang harus kita lakukan adalah banyak-banyak bersyukur. Kata orang-orang itu "life must go on", capek tau membuang waktu dan energi hanya karena perasaan disakiti. Mending bangkit dan memperbaiki diri,” cerita Luna sambil mengunyah coklat di tangannya.

“Apa yang kamu katakan ada benernya juga sih. Aku sudah berusaha melupakan. Cuman aku sering kepikiran.”

“Gak papa kak, pelan-pelan nanti bisa. Melupakan itu bukan pekerjaan mudah. Perlu proses. Lama-lama juga nanti terbiasa. Dulu aku malah mau jedotin kepala ke tembok, biar gak kepikiran. Hahaha…. Tolol emang aku dulu.”

“Hahaha…. Segitunya?.”

“Iyaa, beneran!.”

Begitulah malam di bus itu. Ratih dan Luna adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal sebelumnya. Namun karena memiliki nasib yang sama, mereka akhirnya bisa saling berbagi cerita. Mereka terus mengobrol di atas roda-roda berjalan bus. Mereka lupa untuk tidur hingga sampai pada tujuannya. Mereka sampai pada tujuan pukul 02.00 WIB. Tiba waktu untuk Luna dan Ratih berpisah. Mereka mengucapkan salam perpisahan. Mereka kembali pada status, Ratih sebagai pekerja kantoran dan Luna sebagai mahasiswa perantauan. Mereka adalah orang asing sebelumnya, kursi bus yang mempersatukan, namun pada akhirnya mereka menjadi asing kembali. Luna memberikan kesan baik yang mendalam untuk Ratih, pertama adalah kewajiban untuk bangkit karena disakiti, kedua sikap menghargai setiap orang, sebab kita tidak pernah tau siapa yang akan membuat kita tersadar.

Daftarkan email kamu, dapatkan update dari manzilku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel